dung-dung pret

Hidup dalam ketidakjelasan, berjuta rasanya…

Archive for Agustus, 2008

Nyakau lagi

Posted in candadalamkata on Agustus 11th, 2008

Stagnasi gue terasa lagi
Aha, bukan soal yang kemarin
Lebih-lebih tentang kancut itu
Asli gue sudah lupa tuh!

Lambat laun, gue sulut garfil
“Lucu….Lucu…..asapnya itu lho”
Sebagian mereka tertiup prahara
Tahukah kamu tentang tawang?

Ya Tuhan, asap garfil melayang diantara tawang
Seorang perempuan berdehem dari jauh, mendekat “Ehmm…ehmm”
Tidak lama, ia malah tersedu-sedu
“Bagi rokokmu?” suaranya makin merintih

Ia malah memandang setiap asap rokok yang menyembul
“xixixixi….asapmu mengambang di tawang” Read the rest of this entry »

Rekonsiliasi

Posted in candadalamkata, pulitikRujit on Agustus 11th, 2008

Ajaib…
Kucing sudah bercengkrama dengan tikus, bahkan bersilaturahmi dengan anjing.
Di tempat lain, kodok sudah tak takut lagi bergaul sama ular, mereka menyatu dalam kesatuan.
Beberapa saat sebelumnya, nyamuk sedang bersenda gurau dengan cicak, mereka membicarakan laba-laba yang sedang bermesraan dengan belalang.

Aneh…
Kupu-kupu bergotong royong dengan capung membuat sarang.
Lalat hilir mudik mengunjungi semut hitam.
Serigala tak jarang saling sapa dengan domba.
Ayam berada satu barisan dengan elang.

Takjub… Read the rest of this entry »

Running

Posted in candadalamkata, life must go on on Agustus 11th, 2008

00:53 dinihari…..

Playlist winamp sedang mengalun Running-nya milik No Doubt. Entahlah, ada sesuatu yang begitu sukar untuk gue ceritakan dengan memori dalam lagu ini, tentang sesuatu yang hilang, tentang masa yang tak mungkin tergantikan oleh masa berikutnya.

Lalu gue mencoba meracik beberapa kalimat dalam sebuah tulisan dan berujung pada satu kenyataan : Cinta Sejati. Lalu gue bertanya-tanya, ada dimana Cinta Sejati gue ?

Lalu gue telaah kembali folder lama, folder yang tak akan pernah terformat selama gue hidup, ya… explorasi masa lampau. Explorasi yang mengajak gue flashback ke masa itu ketika gue bisa tertawa lepas, menangis bersama, tertawa kembali………..menangis lagi, begitu seterusnya merajut emosi dan membingkai kenangan demi kenangan.

Hingga pada satu takdir, sebuah konsekuensi seorang manusia menjadikannya harus menerima itu : Kematian memang tak pernah mengenal kompromi.

Pergi ke dapur, gue seduh teh hangat.

Read the rest of this entry »